Nasional,Lidikkrimsua.co.id – Di tanah Papua, darah kembali tumpah. Dua warga sipil yang tak bersalah meregang nyawa, ditembak oleh kelompok bersenjata yang menuduh mereka sebagai mata-mata. Minggu 26/07/2026
Mereka bukan angka, bukan sekadar berita singkat di layar televisi.
Mereka adalah manusia, anak bangsa, yang hak hidupnya direnggut begitu saja.Namun, di tengah jeritan keluarga yang kehilangan, negara terasa sunyi. Menteri yang mengaku paling paham tentang hak asasi manusia seakan menghilang, meninggalkan rakyat dalam kesepian.
Apakah nyawa orang Papua begitu murah hingga tidak layak diperjuangkan dengan suara lantang?
Pemerintah seharusnya hadir bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan hati. Bukan hanya dengan operasi, tetapi dengan empati.
Karena luka Papua bukan sekadar luka fisik, melainkan luka batin yang terus menganga akibat ketidakpedulian.Hari ini, rakyat Papua menangis.
Besok mungkin mereka akan kembali menangis. Dan setiap tangisan itu adalah teguran keras: negara yang diam di hadapan penderitaan rakyatnya adalah negara yang kehilangan nurani.
Red, Anton
