Oplus_131072
Dunia Spiritual,Lidikkrimsus.co.id – Ki.Ageng Jaka Bhuwana Menjelaskan pentingnya mengenal Dzikrullah dalam pandangan ilmu tasawuf tingkat Ma’rifat bagi para pelaku thoriqoh.
Dzikirnya Seorang Hamba Pewayangane Gusti tingkat tertinggi dan terdalam, yaitu Dzikir Sirrul Asrar (Dzikir Rahasia di dalam Rahasia) atau Dzikir Khafi al-Khafi.

Dzikrullah ini yang sering diamalkan para waliyullah tingkat ma’rifattullah. Berikut 4.makom Dzikir Sirrul Asrar.
1.Dzikir Ismu Zat (Mengingat Nama Zat)
Ketika lisan sudah tidak lagi mengucap La ilaha illa Allah, amalan batin berpindah ke nama terkecil dan ter-inti:
• Lafadz: Allah… Allah…
• Cara: Dzikir ini dihunjamkan ke dalam detak jantung (dipusatkan di Latifah Qalbi, sekitar dua jari di bawah susu kiri).
Jantung berdenyut, batin menyebut nama Allah di setiap detakan secara terus-menerus hingga dzikir itu “hidup” dan berjalan otomatis.
2.Dzikir Ismu Isyarah (Dzikir Hu)
Ketika seorang hamba semakin tenggelam dalam samudera makrifat, nama “Allah” pun dirasa masih merupakan nama sebutan. Maka amalan dzikirnya naik ke tingkat napas dan esensi diri:
• Lafadz: Hu… Hu… (Artinya: Dia, Dialah Allah).
• Cara: Dzikir ini diselaraskan dengan keluar masuknya napas.
• Saat napas masuk, batin menghayati wujud Allah yang memberi hidup.
• Saat napas keluar, batin melepas ego makhluk dan mengembalikan segala pujian kepada-Nya.
3.Dzikir Rahasia Tertinggi (Dzikir Tanpa Huruf & Suara)
Pada puncak tingkat ke-4, amalan dzikirnya adalah “Diam yang Berisi” (Syuhud).
• Lafadz: Tidak ada lafadz, tidak ada huruf, tidak ada suara batin (senyap total).
• Hakikat Amalan: Amalan pada tingkat ini adalah kesadaran penuh (kehadiran hati/hudhur).
Jiwa seseorang terjaga total memandang bahwa apa pun yang ia lihat, dengar, dan rasakan, semuanya bergerak atas kehendak dan wujud Allah. Dzikir ini mewujud menjadi akhlak, ketenangan mutlak, dan kepasrahan total (tawakkal) di setiap detik kehidupan.
Catatan Penting Lahiriah
Untuk bisa mengamalkan dzikir napas (Hu) dan dzikir sirr hingga masuk ke tingkat makrifat, para ulama menekankan pentingnya Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Jiwa) sebagai pondasi harian:
• Dawamul Wudhu: Menjaga diri selalu dalam keadaan suci (jika batal, wudhu kembali).
• Istighfar & Taubat: Membersihkan karat-karat dosa di hati sebelum mengisinya dengan cahaya Allah.

Nb.
Untuk menyelaraskan dzikir napas (Hu) saat duduk tafakur, berikut adalah panduan praktis tata cara yang umumnya diajarkan dalam ilmu hakikat dan makrifat untuk membersihkan batin:
1.Persiapan Lahir dan Batin
• Keadaan Suci: Pastikan Anda sudah berwudhu. Pakaian dan tempat duduk dalam keadaan bersih dan sunyi dari gangguan.
• Posisi Duduk: Duduklah dengan posisi bersila secara santai namun tulang punggung tetap tegak. Pundak rileks, dan letakkan kedua telapak tangan di atas lutut (bisa menghadap ke atas atau ke bawah).
• Menutup Mata: Pejamkan mata dengan lembut untuk memutuskan pandangan dari dunia lahiriah dan mulai mengalihkan perhatian penuh ke dalam diri.
2.Pembersihan Awal (Tazkiyah)
Sebelum masuk ke dzikir napas, bersihkan “ruang” hati terlebih dahulu:
• Bacalah Istighfar (3 kali atau lebih) dengan penuh penyesalan, niatkan untuk meluruhkan seluruh dosa dan hijab yang mengotori hati.
• Bacalah Shalawat Nabi (3 kali atau lebih) sebagai wujud tawasul dan penghormatan agar mendapatkan syafaat serta bimbingan ruhani.
3.Penyelarasan Dzikir Napas (Hu)
Mulailah mengatur dan merasakan aliran napas yang keluar-masuk melalui hidung secara alami (jangan dibuat-buat atau dipaksa).
• Saat Napas Masuk (Hirup):
• Rasakan udara masuk dengan lembut.
• Bersamaan dengan itu, hadirkan kesadaran batin yang menyebut atau merasakan kedalaman makna nama: Allah… atau Hu… (Dia yang Maha Hidup dan Memberi Hidup).
• Saat Napas Keluar (Hembuskan):
• Lepaskan udara lewat hidung secara perlahan dan rileks.
• Bersamaan dengan itu, batin menghayati runtuhnya ego diri, masalah dunia, dan sifat-sifat tercela, lalu kembalikan semuanya kepada-Nya: Hu… (Hanya Dia yang Kekal).
4.Fase Keheningan (Syuhud / Menuju Tingkat 4)
Setelah ritme napas dan dzikir batin di atas sudah selaras dan berjalan terasa otomatis, Anda akan memasuki fase keheningan:
• Abaikan Lintasan Pikiran: Jika ada pikiran tentang duniawi yang lewat, jangan diikuti dan jangan dilawan. Cukup biarkan berlalu dan kembalikan fokus Anda pada rasa kehadiran Allah.
• Diam yang Berisi: Pada titik ini, biarkan lafadz “Hu” itu melebur. Anda tidak lagi sibuk mengucapkan kata di dalam hati, melainkan hanya berada dalam kondisi siaga, pasrah total, dan merasakan kedekatan yang sangat intim dengan Zat Allah (Hudhur).
Amalan tafakur ini sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama di waktu-waktu hening seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat subuh dan maghrib, minimal selama 10 hingga 15 menit. Kecuali dalam keadaan qolwat dan pencapaian ilmu khusus tidak terbatas waktu.
Ki. Ageng Jaka Bhuwana
