Pasaman Barat — Ldikkrimsus.co.id– Intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat pada Senin, (19/102026), mengakibatkan sejumlah sungai membesar dan meluap ke pemukiman serta lahan pertanian warga.
Berdasarkan pemantauan media ini di lapangan, hujan dengan intensitas tinggi tersebut terjadi sejak siang hari dan terus berlanjut hingga malam hari. Akibatnya, debit air Sungai Batang Simpang yang berada di Jorong Mudiak Simpang, Nagari Simpang Timbo Abu Kajai, Kecamatan Talamau tidak mampu lagi menampung volume air dan meluap.
Luapan air sungai dengan cepat merendam areal persawahan milik masyarakat yang berada di bantaran sungai. Ironisnya, sebagian besar padi yang terendam tersebut sudah dalam kondisi siap panen, sehingga kerusakan yang ditimbulkan cukup parah dan petani terancam gagal panen.

“Sungai Batang Simpang meluap sampai ke areal pertanian masyarakat. Sawah yang akan dipanen rusak terendam lumpur dan air bah,” ujar salah seorang warga Jorong Mudiak Simpang saat ditemui di lokasi, Selasa (20/10/2026).
Dari hasil pemantauan langsung dan pengumpulan informasi dari masyarakat serta kelompok tani setempat, total luasan sawah yang mengalami kerusakan akibat luapan Sungai Batang Simpang mencapai 7,25 hektar.
Dengan rincian, 5 hektar mengalami kerusakan kategori sedang dan 2,25 hektar mengalami kerusakan kategori berat. Sawah-sawah tersebut merupakan milik anggota Kelompok Tani Mudiak Simpang dan Kelompok Tani Sawah Laweh Berlian.
Padahal, luasan areal sawah yang selama ini mengandalkan aliran irigasi dari Sungai Batang Simpang mencapai 120 hektar. Artinya, jika tidak segera ditangani, ancaman kerusakan yang lebih luas bisa terjadi pada musim hujan berikutnya.
Akibat kejadian ini, jumlah kerugian materi yang dialami petani diperkirakan mencapai Rp 250.000.000 (Dua Ratus Lima Puluh Juta Rupiah). Kerugian tersebut meliputi biaya olah lahan, bibit, pupuk, hingga potensi kehilangan hasil panen.
Masyarakat dan kelompok tani berharap pemerintah tidak tutup mata terhadap kondisi ini. Kerusakan yang berulang kali terjadi setiap musim hujan disebabkan oleh kondisi sungai yang sudah mengalami pendangkalan dan tidak adanya penahan tebing.
Sebagai solusi jangka panjang, masyarakat mendesak dilakukannya normalisasi Sungai Batang Simpang, perbaikan saluran irigasi yang jebol terbawa arus, serta pembuatan bronjong penahan dinding tebing sungai.
“Kalau tidak dinormalisasi dan tidak dibuat bronjong, setiap hujan besar pasti sawah kami akan kebanjiran lagi. Ini sudah sering terjadi,” keluh Masyarakat.
Selain perbaikan fisik sungai, akibat adanya ancaman gagal panen tersebut, masyarakat juga sangat mengharapkan uluran tangan pemerintah berupa bantuan pangan untuk menyambung hidup mereka sambil menunggu musim tanam berikutnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga bersama kelompok tani masih melakukan pembersihan sisa-sisa material lumpur dan kayu yang terbawa banjir di areal persawahan. Warga berharap Dinas Pertanian, BPBD, dan Dinas PUPR Kabupaten Pasaman Barat serta Pemerintah Nagari dapat segera turun langsung ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat.( Ipendi PLR )
