Oplus_131072
Budaya,//Lidikkrimsus.co.id – Gambar di tengah menunjukkan bentuk macan yang dimodifikasi dengan seni kaligrafi Arab (biasanya membentuk kalimat syahadat atau doa). Ini merupakan lambang kebesaran, kekuasaan, dan perlindungan spiritual khas Kesultanan Cirebon.

Keraton Pakungwati: Merupakan cikal bakal dari Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. Nama ini merujuk pada situs bersejarah tempat awal mula penyebaran Islam dan pusat pemerintahan oleh Pangeran Cakra Bhuana dan Sunan Gunung Jati.
Pasukan Adat: Merujuk pada barisan pengawal budaya, adat, dan tradisi yang bertugas menjaga marwah serta peninggalan leluhur dari wilayah adat tersebut.
Konteks Nama:Â Ki Ageng Jaka Bhuwana
Gelar dan nama “Ki Ageng Jaka Bhuwana” kental dengan nuansa spiritual dan kultural Jawa/Cirebonan:

Ki Ageng : Gelar kehormatan tradisional Jawa yang biasanya disematkan kepada tokoh masyarakat, pemimpin daerah, ulama, atau sesepuh yang memiliki pengaruh besar, karomah, atau tingkat spiritual yang tinggi.

Jaka (Joko): Berarti pemuda atau jiwa yang selalu muda, melambangkan kekuatan, semangat yang tak pernah padam, dan kesiapan untuk berjuang.
Bhuwana (Bwana/Buwana): Berarti jagat raya, bumi, atau dunia.
Secara filosofis, nama ini mencerminkan sosok pemimpin atau sesepuh yang mengayomi, memiliki wawasan luas seluas jagat raya, serta memegang teguh komitmen untuk menjaga keseimbangan alam dan tradisi.

Dalam kaitannya dengan lambang Pasukan Adat Macan Ali Keraton Pakungwati,
Nama ini merepresentasikan figur penting (bisa berupa nama tokoh sejarah, gelar adat, atau nama spiritual) yang memegang mandat untuk menjaga, memimpin, atau menjadi pelindung adat budaya di bawah naungan semangat Macan Ali.
Red,
