Jakarta,Lidikkeimsus.co.id – CNBC Indonesia – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak ada sangkut pautnya dengan penggeledahan kantor Bank Indonesia.
Data Refinitiv, rupiah dibuka melemah tipis 0,03% di angka Rp16.290/US$ pada hari ini, Jumat (20/12/2024). Namun tak sampai dua menit sejak perdagangan dibuka, rupiah kembali terdepresiasi ke level Rp16.300/US$. Pelemahan rupiah ini terjadi pada seminggu terakhir.
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Hekal menyayangkan narasi yang beredar seakan penggeledahan KPK di kantor BI turut melemahkan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Isu ini berkembang setelah ada statemen Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo terkait dengan aksi penggeledahan oleh Tim Penyidik KPK di kantor Bank Indonesia pada tanggal 15 Desember 2024.
“Penggeledahan yang dilakukan di kantor Bank Indonesia tersebut disebut dapat mempengaruhi nilai tukar dollar AS terhadap mata uang rupiah,” tegas Hekal.
Menurut Hekal, pelemahan nilai rupiah tidak ada hubungannya sama sekali dengan penggeledahan KPK di Kantor Bank Indonesia.
“Memang pelemahan kurs atas dolar terjadi pada berbagai mata uang termasuk kawasan Asia dan bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Fenomena penguatan Dollar AS memang menjadi bagian dari dampak pemilu AS yang dimenangkan Trump,” ujarnya.
“Saya justru berharap BI untuk terus menjalankan komitmennya untuk menjaga stabilitas kurs rupiah yang saat ini sudah melemah bahkan melewati nilai pada asumsi makro APBN 2025 yaitu Rp. 16.100 per dolar,” katanya.
Dia menambahkan BI harus terus menjalankan tupoksinya sebagai bank sentral, melakukan intervensi bila dibutuhkan, demi menjaga stabilitas ekonomi makro. Oleh karena itu penggeledahan KPK di Kantor BI jangan dikait-kaitkan dengan kondisi ekonomi nasional maupun global. Terlebih lagi, kasus yang sedang diusut adalah penyelewengan dana CSR yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi perekonomian global, tutup Hekal.
Red, Anton
