oplus_0
BREBES//lidikkrimsus.co.id — Panas terik matahari membentang luas di Desa Karangsari, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Sejauh mata memandang, hamparan lahan pertanian terlihat kering kerontang. Sisa-sisa batang padi yang telah dipanen berdiri kaku di tanah yang mulai retak, tak kunjung ditanami kembali karena musim kemarau yang berlangsung jauh lebih lama dari biasanya.
Selasa, 13 Oktober 2026, kondisi lahan garapan petani di Desa Karangsari terlihat jelas terbengkalai. Tanah yang seharusnya siap digarap kembali justru tampak tandus dan retak-retak. Tidak ada tanda-tanda persiapan tanam, karena sumber air semakin sulit didapat.
“Air sulit didapat, hujan tak kunjung turun. Kalau dipaksa tanam, yang ada bibit mati dan kerugian yang kami dapat,” ujar salah satu petani setempat.
Kondisi ini tentu membebani para petani. Tanah yang terbengkalai berarti hilangnya peluang panen. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, musim kemarau panjang ini menjadi tantangan berat bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian.
Pemerintah daerah diharapkan dapat segera hadir memberikan solusi, baik melalui penyediaan sarana pengairan alternatif maupun program pendampingan yang membantu petani bertahan di musim kemarau yang ekstrem ini. Semoga hujan segera turun dan membawa berkah kembali bagi para petani kita.
Rokidin, salah satu penggarap lahan di lokasi tersebut, mengungkapkan kekhawatirannya saat dimintai keterangan,
“Iya, kemarau panjang ini saya tidak bisa menggarap lahan karena sumber air tidak ada.”
Ketiadaan sumber air membuat para petani tidak bisa melakukan persiapan tanam. Jika dipaksa menanam, dikhawatirkan bibit akan mati dan justru mendatangkan kerugian yang lebih besar.
Kondisi ini tentu berdampak pada pendapatan para petani setempat. Mereka berharap pemerintah dapat segera hadir memberikan solusi, seperti pengeboran sumur dalam atau pengaliran air alternatif, agar lahan tidak terus-terusan terbengkalai dan petani bisa kembali bekerja menafkahi keluarga.
( Gofur )
