Tegal//lidikkeimsus.co.id – Pasangan suami istri Hadi Wibowo atau akrab disapa Bowo dan Solicha, warga Desa Kepandean, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, sehari-hari berjuang mencari nafkah. Bowo berprofesi sebagai pedagang cilok keliling yang mengandalkan sepeda onthel, sedangkan istrinya membantu ekonomi keluarga dengan menjajakan es potong juga secara berkeliling. Jumat 19/06/2026
Ketika wartawan dari Topsberita.com dan Cakrawalanews.co mendatangi kediamannya, suasana hati terasa terharu melihat kondisi tempat tinggal mereka. Demikian disampaikan Nurohim, Ketua RT setempat.

“Bagaimana tidak terharu? Pintu rumahnya terbuat dari kayu yang sudah rapuh dan dilapisi seng, lantai semen pasirnya sudah banyak mengelupas, sebagian dinding sudah ambruk, serta atap gentengnya banyak pecah dan bolong. Kalau turun hujan, rumah ini pasti kebanjiran. Kehidupan yang dijalani Pak Bowo memang sangat memprihatinkan,” ujar Nurohim.
Meski dalam keterbatasan, Bowo tak pernah mengenal lelah. Setiap hari ia mengayuh sepeda onthelnya sejak pagi hingga sore untuk menjajakan dagangan. Pasangan ini memiliki dua orang anak bernama Ahmad Hasan Basri dan Muhammad Bushiri, yang saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di wilayah Kabupaten Tegal.
Bowo pun menyampaikan harapannya. “Saya berharap ada bantuan dari pemerintah atau donatur untuk membedah rumah ini. Terus terang saja, saya tidak mampu memperbaikinya sendiri. Setiap ada rezeki, lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan anak-anak yang sedang belajar di pesantren,” ungkapnya kepada wartawan.
Ia menambahkan, selama ini baru sekali menerima bantuan saat masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dan hingga kini belum lagi mendapatkan bantuan apa pun.
Setelah ditelusuri, Bowo tidak masuk dalam daftar penerima bantuan karena datanya tercatat pada kelompok desil 6 hingga 10. Hal ini menuai kekecewaan warga sekitar.
“Rumah kondisinya hampir roboh, tembok mengelupas, lantai belum dipasang keramik, genteng bolong, dan penghasilannya hanya dari berjualan cilok keliling. Rasanya tidak masuk akal jika dimasukkan ke desil 6 ke atas, kan terasa ganjil,” tegas Teguh, warga Desa Kepandean
(Gofur)
