Padang, LIDIK KRIMSUS — Dua dekade sudah berlalu sejak Terminal Lintas Andalas di Pasar Raya Padang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Terminal yang dulu menjadi nadi transportasi antarkota, pusat perpindahan penumpang, dan denyut aktivitas ekonomi warga itu kini tinggal nama dalam ingatan kolektif masyarakat. Sejak hilangnya terminal tersebut, wajah Pasar Raya Padang mengalami perubahan signifikan—sebagian menjadi lebih hidup, sebagian lagi menunjukkan kemunduran yang memprihatinkan.
Dulu, kawasan ini dikenal teratur. Arus kendaraan bus, travel, dan angkot disaring melalui Terminal Lintas Andalas sehingga aktivitas perdagangan berjalan tertib. Pedagang mendapatkan ruang berjualan yang layak, pembeli pun merasa nyaman karena akses masuk pasar tidak semrawut. Hilangnya terminal tersebut sejak awal 2000-an meninggalkan kekosongan fungsi yang tak pernah benar-benar digantikan.
Kini, kondisi Pasar Raya Padang memperlihatkan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, geliat ekonomi masih terasa. Lapak-lapak pedagang pakaian, alat rumah tangga, hingga kuliner tetap beroperasi, menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Revitalisasi beberapa blok pasar juga memberi warna baru. Modernisasi kios dan pembenahan infrastruktur dasar pelan-pelan meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Namun di sisi lain, kawasan ini juga dihadapkan pada persoalan yang tak kunjung tuntas. Tanpa terminal resmi, area dalam Pasar Raya kini menjadi titik berkumpul kendaraan umum secara tidak teratur. Puluhan angkot berhenti sembarangan, menumpuk di sudut-sudut jalan, memicu kemacetan di jam-jam tertentu. Pedagang kaki lima menyebar di badan jalan, membuat mobilitas pembeli terhambat. Sampah menumpuk di beberapa area yang tak terjangkau fasilitas kebersihan. Situasi ini diperparah dengan minimnya pengawasan dan penegakan aturan.
Sejumlah warga dan pedagang mengaku merindukan keberadaan Terminal Lintas Andalas yang dulu menjadi pusat kendali lalu lintas transportasi. Mereka berharap pemerintah kota serius mempertimbangkan pembangunan terminal pengganti yang lebih modern dan sesuai kebutuhan saat ini. Tidak hanya sekadar terminal, tetapi juga sebagai pusat aktivitas terpadu yang mengatur arus kendaraan, menata PKL, serta menghidupkan kembali Pasar Raya sebagai pusat ekonomi yang nyaman dan tertib.
Dua puluh tahun kehilangan terminal, Pasar Raya Padang masih berdiri dengan segala dinamikanya. Namun tanpa penataan menyeluruh, kawasan ini berpotensi terus terjebak dalam lingkaran masalah yang sama. Masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk mengembalikan kejayaan pusat perdagangan terbesar di Sumatera Barat tersebut.
Tim
