LIDIK KRIMSUS – II Bagaimana Indonesia menjelaskan posisinya dalam Perang Dingin, khususnya dalam konteks Gerakan Non-Blok, sambil tetap menjaga hubungan dengan AS dan Uni Soviet. …???? Senin 3-2-2025. || 01:17. patani.
“Menjelaskan posisinya” itu maksudnya “memposisikan diri” kelihatannya.
Gerakan Non-Blok, saya pernah jelaskan bagaimana GNB ini walaupun heboh sedunia tapi gak ada relevansi apa-apa secara geopolitik.
Mengapa Rusia bisa diizinkan menempatkan misil di Kuba, padahal Kuba sendiri adalah negara Non-Blok? Karena bagi Kuba, lebih relevan berkubu dengan Uni Soviet daripada memenuhi komitmen sebagai anggota Gerakan Non Blok. Kuba itu adalah negara komunis kecil yang berada di halaman belakang Amerika Serikat. Rezim komunis pimpinan Castro itu sudah mengalami terancam digulingkan CIA dalam Insiden Teluk Babi. Dan semua orang tahu, kegagalan itu tidak akan bikin AS kapok. Pasti akan ada upaya-upaya selanjutnya. Jadi koordinasi pertahanan erat dengan Uni Soviet itu bukan pilihan lagi: itu keharusan. Sebenarnya, seluruh Gerakan Non Blok itu, kalau boleh saya simpulkan, hanyalah omong kosong aja, karena tiap negara di situ pada akhirnya memilih salah satu dari kedua kubu dalam Perang Dingin. Biru tua = anggota, biru muda = pengamat Indonesia di era Soekarno jelas berkubu dengan Uni Soviet dan belakangan RRC. Di era Soeharto geser ke AS. Pakistan mesra dengan AS. India dengan Uni Soviet. Afganistan meminta bantuan Uni Soviet untuk mempertahankan rezimnya. Vietnam Utara memerangi Vietnam Selatan dengan dukungan penuh Soviet-RRC. Korea Utara juga omong kosong kalau dibilang netral, jelas-jelas bagian dari kubu Soviet-RRC. Selain itu, anggota GNB juga berperang satu sama lain. India vs Pakistan misalnya. Bahkan Soekarno yang katanya bersahabat dengan Nehru sebagai sesama pendiri GNB, waktu perang India-Pakistan malah berpihak ke Pakistan, bahkan mendukung secara militer dengan memberi kapal perang dan memblokir India di Andaman. Lalu Iran-Irak juga berperang selama 8 tahun. Salah satu cita-cita GNB adalah anti-kolonialisme dan imperialisme, mendukung hak untuk kemerdekaan tiap bangsa. GNB mendukung penentuan nasib sendiri bagi Sahara Barat (dari Maroko) dan Puerto Rico (dari AS). Tapi di saat yang sama anggotanya punya issue separatisme masing-masing: Yugoslavia dengan Kosovo, Indonesia dengan Timor Timur-Aceh-Papua, India dengan Kashmir, dll. Ada banyak dari Dasasila Bandung (prinsip-prinsip GNB yang diciptakan di KAA Bandung 1955) yang dilanggar oleh anggota-anggotanya. “Settlement of all international disputes by peaceful means, in conformity with the Charter of the United Nations.” misalnya. Kita tahu banyak perang atau konflik bersenjata yang dilakukan oleh negara-negara anggota, termasuk Indonesia, India, Mesir, Vietnam. Begitu juga dengan butir ini “Recognition of the movements for national independence”, sebagaimana sudah saya sebutkan di atas. Bahkan sebelum Perang Dingin berakhir, polarisasi dunia sudah pecah tiga, khususnya setelah pemisahan Sino-Soviet. Dunia jadi terpecah 3 kubu: AS, Soviet, dan RRC. Dan anggota-anggota GNB semua memikirkan kepentingan masing-masing yang mana lebih bermanfaat dari tiga kubu utama itu. Belum lagi kalau kita bicara kestabilan politik. Mayoritas negara-negara GNB tidak stabil secara politik: kudeta, perang saudara, revolusi adalah hal yang sering terjadi. Bahkan pada peringatan 10 tahun KAA tahun 1965 di Algiers, Aljazair bikin repot karena kudeta terjadi pada waktu presiden Soekarno dalam perjalanan terbang ke sana. Dan sebagaimana kita tahu, dalam beberapa tahun giliran Soekarno yang tumbang. Apalagi setelah Perang Dingin berakhir. Apa pula relevansi GNB? Dalam artikel-artikel yang membahas geopolitik, tidak pernah ada satu pun yang saya baca menyebut-nyebut GNB. Dalam percaturan geopolitik global, masing-masing memilih kubu sendiri. GNB tidak berhasil menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Yang mendamaikan Israel-Mesir dan Israel-Yordania bukan GNB. Yang memerdekakan Timor Timur juga bukan GNB. Begitu juga Konfrontasi Indonesia-Malaysia tidak ada andil GNB di situ. Konflik India-Pakistan juga GNB tidak berinisiatif apa-apa. GNB hanya acara kumpul-kumpul negara-negara dunia ketiga untuk mengesankan seolah-olah mereka adalah kubu yang independen. Kenyataannya, mereka harus ngeblok ke salah satu kubu. Jadi mohon maaf, foto ini memang gagah: Para pendiri GNB Tapi unfortunately, ini hanya acara kumpul-kumpul aja. Kalau Anda punya argumen yang bertentangan, boleh dikasih di kolom komentar. I’m all ears.
Dan Republik Indonesia ini gak jadi teladan juga dalam hal posisi ‘non blok’-nya. Di era Sukarno mepet ke Uni Soviet, belakangan beralih ke Republik Rakyat China, dan setelah masuk era Soeharto jadi anti komunis banget dan mepet ke Barat. ‘Non Blok’ itu cuma jargon dan acara kumpul-kumpul aja.
Indonesia gak sendiri. Negara-negara GNB lain juga sami mawon.
Justru menurut saya istilah “non blok’ lebih cocok dikenakan ke Indonesia SEKARANG ini, pada waktu era Perang Dingin sudah lama lewat dan negara-negara di dunia ini lebih mementingkan duit duit duit lewat perdagangan dan investasi. Memang sekarang ini kelihatannya adalah era AS vs RRC, khususnya di kawasan kita sekarang (AS vs Rusia gak terlalu relevan sebenarnya, indo netizen aja yang semangat bonek ikut-ikutan heboh). Dan sejauh ini, karena proximity (letak geografis) kita dengan RRC gak terlalu dekat (pertikaian Laut China Selatan RRC vs RI gak se-intens RRC vs negara ASEAN lain), RI masih berusaha melakukan balancing antara dua pihak di ‘perang dingin’ baru ini. RRC mau investasi? Bisa jual barang murah? Ayuk. AS bisa kasih insentif? Kasih bantuan? Ayuk juga. Dan RI juga berkomitmen supaya kawasan Asteng ini gak jadi wilayah perang panas antara kedua pihak.
Dan semua ini dilakukan tanpa ada keterlibatan GNB lagi (yang saya gak tahu lagi ngapain aja organisasi ini, gak ada beritanya udah puluhan tahun). RI melakukan balancing act ini menurut saya lebih besar di motivasi ekonomi. Siapa pun yang bisa menguntungkan RI, RI mau bermitra. Makanya RI juga gabung BRICS. Soal BRICS dan keanggotaan RI, saya pernah jelaskan di sini:
Apakah indonesia lebih baik setelah bergabung dengan BRICS? Jawaban saya: gak tahu. Atau setidaknya belum tahu. Memang banyak orang Indonesia yang punya mentalitas anti Barat ini semangat banget waktu ada kabar RI resmi masuk BRICS. Apalagi katanya BRICS mau memberlakukan penggunaan mata uang bersama yang baru sebagai pengganti dolar. Tapi sebelum terlalu semangat, perlu tahu dulu sebenarnya BRICS itu apaan dan apa sebenarnya bedanya dengan G7, yang sering disebut sebagai “Barat” sama netizen? BRICS – Wikipedia itu berawal dari artikel tahun 2001 berjudul Building Better Global Economic BRICs karya Jim O’Neill (Jim O’Neill, Baron O’Neill of Gatley – Wikipedia), kepala riset ekonomi global Goldman Sachs (belakangan jadi Chairman of Goldman Sachs Asset Management). Artikelnya ada di sini kalau mau baca:
https://www.goldmansachs.com/pdfs/insights/archive/archive-pdfs/build-better-brics.pdf Intinya, artikel itu adalah tentang strategi investasi di negara-negara yang menjanjikan. Brasil, Rusia, India, dan China disebut di artikel itu sebagai negara-negara yang sebenarnya punya pasar yang besar dan banyak potensi untuk investasi. Artikel ini jadi cukup heboh di tahun-tahun mendatang, sehingga pada 2009 BRICS resmi jadi organisasi multilateral beneran. Afrika Selatan gabung tahun 2010. Indonesia sebenarnya sudah lama disebut-sebut sebagai “I” yang kedua dari BRICS oleh Jim O’Neill, di bukunya “The Growth Map: Economic Opportunity in the BRICs and Beyond”. Indonesia sendiri sepemahaman saya gak pernah terdengar antusias bergabung dengan BRICS, tapi tahu-tahu sudah resmi gabung pada Januari 2025. Ada kesamaan dari semua negara-negara ini: kemajuan ekonomi pesat dan pasar yang besar. Konsep yang digadang BRICS adalah untuk menciptakan iklim perdagangan global yang tidak bergantung dengan sistem Barat. Itu makanya BRICS membuat bank sentral baru Bank Pembangunan Baru (New Development Bank – Wikipedia) , membuat “IMF”-nya sendiri namanya BRICS Contingent Reserve Arrangement – Wikipedia, dan juga sistem pembayarannya sendiri BRICS PAY – Wikipedia untuk menggantikan sistem SWIFT. Cita-citanya adalah untuk settlement-nya dilakukan di mata uang lokal. Dan tentunya yang gak boleh ketinggalan: cita-cita untuk memiliki mata uang bersama, mirip kayak Euro untuk Eurozone. Dengan begitu harapannya negara-negara ini tidak bergantung pada dolar lagi waktu bertransaksi di antara mereka. Anggota sekarang per Januari 2025: Apakah BRICS bisa menyaingi Eurozone atau G7? Nah, ini yang sebenarnya kalau menurut saya masih jauh. Tantangan yang harus dilalui negara-negara anggota BRICS itu buanyak, tapi utamanya adalah sbb: 1. Ekonomi negara-negara BRICS sangat berbeda dan tidak seimbang. Pasar bebas seperti India sangat berbeda dengan ekonomi Rusia dan China. 2. Anggota BRICS punya banyak konflik di antara mereka sendiri. Yang udah jelas: China vs India. Dua negara ini adalah kompetitor di kawasan. Kontak senjata fatal sudah terjadi beberapa kali di perbatasan. Dan perlombaan alutsista kedua negara gak bisa diabaikan. Lalu ada Etiopia vs Mesir yang dispute soal sungai Nil. Dan Iran vs UAE yang adalah musuh bebuyutan geopolitik di Timur Tengah, belum lagi sengketa pulau-pulau di Teluk Persia. Dan kasus antara China vs Brazil baru-baru ini juga menunjukkan tantangan BRICS. Brazil pada Desember 2024 mempermasalahkan kondisi pekerja di pabrik mobil elektrik BYD, membekukan ijin kerja WN RRC dan berdampak ke produksi pabrik BYD. Lalu pada Januari 2025 RRC menghentikan impor kacang kedelai dari Brazil karena dianggap tidak memenuhi standar kesehatan RRC. Udah balas-balasan begini sesama anggota BRICS. Di luar dari ini, Brazil juga punya masalah dengan membanjirnya produk-produk murah impor dari RRC, barang-barang produksi lokal jadi gak laku, pabrik-pabrik tutup, dan pengangguran meningkat. https://www.reuters.com/markets/commodities/chinas-suspension-five-brazilian-soy-exporters-last-2-months-says-brazilian-2025-01-24/ https://www.wsj.com/world/china/chinas-flood-of-cheap-goods-is-angering-its-allies-too-51284954 Prosecutors find workers in ‘slavery like’ conditions at Chinese car company site in Brazil Prosecutors find workers in ‘slavery like’ conditions at Chinese car company site in Brazil BYD construction site in Brazil shut over ‘slavery-like’ conditions 3. Kestabilan politik dan ekonomi anggota-anggota BRICS masih dipertanyakan. India, China, Brasil, Etiopia, Iran, punya problem pemberontakan dan separatisme. Rusia punya problem kestabilan politiknya yang sangat bergantung pada satu orang. Faktor-faktor di atas ini akan membuat BRICS tidak akan bisa seefektif EU atau G7 yang punya kesehatan ekonomi dan kestabilan sosial politiknya mirip-mirip. Dan satu lagi, soal mata uang bersama yang baru, ini bukanlah perkara gampang. Eropa berhasil memberlakukan Eurozone karena hal-hal berikut ini: 1. Integrasi ekonomi dan political will. Eropa itu pasca PD II sudah mengarah untuk integrasi ini, jadi kesolidan mereka beda level dengan negara-negara Asia-Afrika. 2. Persatuan moneter. Eropa itu punya Bank Sentral Eropa yang sudah powerful untuk mengarahkan kebijakan Euro. 3. Kriteria untuk integrasi ekonomi. Standar ekonomi untuk Euro itu jelas. Untuk mata uang BRICS ini, belum jelas. 4. Tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Ini membuat kredibilitas Bank Sentral Eropa jadi kuat. Sebaliknya dengan negara-negara BRICS, tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah masing-masing gak bisa dibilang setinggi Eropa. 5. Stabilitas geopolitik. Eurozone bisa dibilang stabil dari konflik panas maupun perang dingin. Hal yang sama tidak ada pada BRICS. 6. Pasar bersama dan kebijakan fiskal. Seluruh Eurozone bisa dibilang adalah satu pasar Eropa yang dikawal oleh mekanisme fiskal yang sudah established. Tantangan BRICS untuk meniru kondisi di atas sangat tinggi. Negara-negara di dalamnya sangat tidak terintegrasi, sistem keuangan mereka sangat berbeda-beda satu sama lain, perbedaan politik antar negara sangat besar membuat negara-negara BRICS akan sangat ragu untuk memberikan kuasa otoritas keuangan pada satu bank sentral di luar negaranya. Itu kalau kita bandingkan dengan Eurozone. Bagaimana dengan G7? G7 – Wikipedia sebenarnya adalah ‘klub’ negara-negara yang gak cuma volume ekonominya yang besar tapi juga pendapatan per kapitanya besar. Simpelnya, kalau BRICS volume ekonomi besar, tapi rakyatnya banyak banget yang miskin. Kalau G7 volume ekonomi besar DAN pendapatan rakyat rata-rata juga besar. G7 juga mirip seperti Eurozone, di mana negara-negara anggota punya stabilitas politik dan kesehatan ekonomi yang tinggi dan setara. G7 yang beranggotakan AS, Inggris, Kanada, Jepang, Jerman, Perancis, Italia, dan Uni Eropa keanggotaannya di G7 bisa dibilang setara dan mereka menjalankan komitmennya masing-masing terhadap komunike yang dicapai. Ini berarti tingkat kepercayaan antara pemerintah di G7 sudah sangat tinggi. Negara-negara G7 punya pengaruh besar di G20, PBB, dan WTO. Memang bisa dibilang G7 ini klub elit yang akan bikin iri negara-negara berkembang lain. Tapi gak bisa disangkal, economic power mereka beneran besar dan mereka solid sebagai negara-negara terkaya di dunia. Ini yang membuat mereka lebih powerful lagi untuk mempengaruhi arah ekonomi global. BRICS terus terang akan sulit mengejar pengaruh G7 ini. Apakah dengan RI bergabung BRICS berarti RI bergeser menjauh dari Barat? Ini memang ngarepnya banyak netizen Indonesia. Tapi gak begitu juga kenyataannya. Satu bukti saja, anggota-anggota asli BRICS itu punya hubungan yang berbeda-beda dengan AS. Brazil di era presiden Bolsonaro itu mesra dengan AS yang dipimpin Trump, Rusia bermusuhan, India akrab, China bermusuhan. India bisa saja akrab dengan AS tapi mesra juga dengan Rusia. India gabung BRICS bukan berarti India jadi bermusuhan dengan AS. Dan ini belum ngomongin negara-negara Eropa lain. Saya melihat RI itu punya privilege sebagai negara di geografi strategis. Rusia, RRC, AS, Aussie, semua berkepentingan untuk punya hubungan baik dengan RI. Tinggal RI gimana maininnya, bisa berteman dengan semua orang. RI kelihatannya udah begini dari sejak era Reformasi, jadi politik luar negeri bebas aktifnya benar-benar diterapkan tanpa harus bawa-bawa GNB yang gak relevan itu. RRC, Rusia, AS, siapa pun yang mau bermitra dengan RI yang menguntungkan RI, RI dengan senang hati akan meladeni. Ada untungnya RI punya wilayah pertikaian di laut dengan RRC itu kecil (gak sebesar Filipina & Vietnam misalnya), jadi RI gak ‘harus’ diseret untuk counter balance ke kubu AS-Aussie. Jadi RI di G20 bisa bergaul dengan semua negara-negara, termasuk G7, di BRICS RI juga bisa bermitra dengan negara-negara yang mungkin berseberangan dengan Barat. Kalau satu saat BRICS maju beneran, ya RI akan ikut dapet benefitnya. Kalau G20 bisa bekerja sama dengan G7 dan dapat benefitnya, ya kenapa enggak? Apa yang Prabowo katakan di bawah ini sums up kenapa RI gabung BRICS: Jadi kalau dijadikan poin-poin, strategi RI untuk gabung BRICS adalah untuk hal-hal berikut ini: 1. Diversifikasi aliansi. Berteman dengan semua orang, gak cuma bergantung dengan Barat atau Timur. 2. Pengaruh ekonomi. Dengan gabung BRICS, RI yang punya ekonomi besar bisa ikut andil membentuk kebijakan ekonomi internasional, khususnya di kawasan BRICS. 3. Strategi geopolitik supaya gak terlalu bisa didikte oleh salah satu pihak. 4. Dengan gabung BRICS RI menempatkan dirinya sebagai salah satu ‘pemimpin’ di global south. Tapi kalau kembali ke pertanyaannya apakah Indonesia akan lebih baik setelah bergabung BRICS, jangankan Indonesia, BRICS-nya saja masih harus diamati dulu akan bernasib kayak apa. Tapi buat kalian yang menaruh harapan tinggi sama BRICS, mungkin ini ada secercah kabar baik. Presiden Trump mengeluarkan keputusan-keputusan yang menargetkan RRC dan impor baja India dan Brasil. Ini kemungkinan besar akan memicu negara-negara BRICS untuk memulai langkah-langkah menuju perdagangan intra-BRICS. Plot Twist Jim O’Neill yang menulis artikel berisi istilah BRIC pertama kali, sudah kehilangan harapannya pada organisasi BRICS itu sendiri. Dia menganggap BRICS sebagai proyek gagal. Di artikel di Project Syndicate (2021) dia menulis bahwa anggota BRICS “sejauh ini terbukti tidak mampu bersatu menjadi kekuatan global yang berarti”. Dia juga mengatakan di 2024 bahwa “tahun ke tahun makin terkonfirmasi bahwa kelompok ini tidak menunjukkan tujuan nyata selain pernyataan-pernyataan simbolik dan retorika-retorika muluk-muluk.” The BRICS Still Don’t Matter | by Jim O’Neill – Project Syndicate Will the BRICS Ever Grow Up? | by Jim O’Neill – Project Syndicate Referensi:
https://www.facebook.com/share/p/1DV24MG7iL/
https://www.facebook.com/share/p/14j8RqUCdL/
BY:SAR.
