Jakarta, LIDIK KRIMSUS — 10 Desember 2025 – Catatan Reflektif atas Program Makan Bergizi Gratis dan Kepemimpinan BGN
Di tengah riuh zaman yang bergerak cepat, kritik publik kerap hadir sebagai suara yang paling awal terdengar. Ada yang lahir dari kegelisahan, ada pula yang tumbuh dari kepedulian. Dalam perjalanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kritik menjadi denyut yang tak terpisahkan — mengiringi langkah negara dalam membangun fondasi gizi generasi masa depan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyadari sepenuhnya bahwa program sebesar MBG tidak mungkin berjalan tanpa sorotan. Justru dari sorotan itulah mutu kebijakan diuji. Kritik tidak ditempatkan sebagai gangguan, melainkan sebagai pertanda bahwa publik masih peduli, masih berharap, dan masih percaya bahwa program ini layak diperjuangkan bersama.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, memilih berdiri dengan sikap yang tenang di tengah derasnya kritik. Baginya, kritik bukan ancaman, melainkan kontrol yang menyehatkan. “Saya cukup senang dengan pembicaraan negatif karena itu kontrol. Setiap ada kritik, kita cek apa yang disorot lalu dibahas cara mengatasinya. Kritik bikin kita nggak lengah”, ujarnya. Kalimat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi juga cermin dari keberanian untuk tetap terbuka.
Sikap inilah yang memberi pesan penting bahwa negara tidak sedang bekerja dalam ruang tertutup. Ada mata yang mengawasi, ada suara yang menilai, dan ada hati rakyat yang berharap. Bagi BGN, kritik bukan sekadar riak di permukaan, melainkan penunjuk arah agar langkah tetap berada di jalur yang benar.
Di ruang publik, beragam kritik pun mengemuka. Mulai dari mutu menu yang perlu terus ditingkatkan, ketepatan distribusi, kesiapan Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga tuntutan transparansi tata kelola. Kritik-kritik itu bukan sekadar daftar keluhan, melainkan potret kecemasan sekaligus keinginan agar program ini berjalan dengan sungguh-sungguh.
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya bukan sekadar proyek bantuan pangan. Ia adalah investasi peradaban. Ia menyentuh anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan — mereka yang kelak akan menentukan arah bangsa ini. Karena itu, wajar bila publik begitu sensitif terhadap setiap kekurangan yang muncul di lapangan.
Di titik inilah peran BGN menjadi sangat strategis. Bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan, tetapi sebagai penjaga mutu, perawat kepercayaan publik, dan penghubung antara negara dan rakyat. Setiap kritik yang datang sesungguhnya adalah titipan harapan yang menuntut jawaban dalam bentuk kerja nyata.
Sosok Dadan Hindayana tampil sebagai figur yang mencoba menjaga keseimbangan itu. Di tengah tekanan, ia tidak memilih sikap defensif. Ia justru merawat ruang dialog. Ia menempatkan kritik sebagai bagian dari denyut demokrasi yang harus dikelola dengan pikiran jernih dan hati yang lapang. Di sinilah kepemimpinan menemukan keteduhannya.
Namun, keterbukaan saja tidaklah cukup. Publik menunggu pembuktian bahwa setiap kritik benar-benar diterjemahkan menjadi langkah-langkah perbaikan yang konkret. Penguatan distribusi, peningkatan pengawasan mutu pangan, akurasi data penerima manfaat, hingga pelibatan pelaku lokal secara adil adalah pekerjaan besar yang menuntut konsistensi dan keteguhan.
Di sisi lain, masyarakat pun memikul tanggung jawab moral untuk menghadirkan kritik yang beradab, jujur, dan berpijak pada fakta. Kritik yang lahir dari nalar dan empati akan menguatkan kebijakan. Sebaliknya, kritik yang dibangun dari prasangka hanya akan menambah kabut dalam perjalanan yang seharusnya terang.
Relasi antara BGN dan publik semestinya tidak diletakkan dalam posisi saling berhadap-hadapan. Ia harus tumbuh sebagai kemitraan. Negara bekerja dengan niat baik, rakyat mengawasi dengan akal sehat. Kebijakan dirumuskan, publik memberi umpan balik. Di sanalah wajah demokrasi yang dewasa menemukan bentuknya.
Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis adalah taruhan besar negara dalam menjaga masa depan. Jika kritik terus dijadikan bahan bakar perbaikan, bukan alat untuk saling meniadakan, maka program ini akan tumbuh semakin matang. Seperti yang ditegaskan Kepala BGN, kritik sejatinya bukan untuk menjatuhkan — melainkan agar bangsa ini tidak pernah lengah dalam menjaga anak-anaknya, menjaga harapannya, dan menjaga masa depannya.
Oleh : Ari Supit
