Jakarta, LIDKI KRIMSUS – II Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya kali ini saya kembali mendapat Kehormatan menjadi salah seorang narasumber di acara tahunan Dialog Antar Agama Dunia dalam Harmony PBB atau UN World Interfaith Week of Harmony di kantor PBB New York. Acara kali ini disponsori oleh dua Perwakilan Tetap Malawi dan Vanuatu, dan sebagai pelaksana (organizer) adalah sebuah organisasi antar agama yang berpusat di Korea bernama HWPL (Heavenly Culture World Peace, Restoration of Light. 
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana Nusantara Foundation langsung menjadi co sponsor atau ikut menjadi pelaksana. Karena satu dan lain hal kali ini Nusantara tidak ikut menjadi pelaksana. Namun demikiian, oleh banyak organisasi antar agama kami selalu dianggap bisa memberikan kontribusi pemikiran mewakiliki Komunitas Muslim dalam acara-acara seperti ini.
Saya mengapresiasi Perutusan RI sewaktu Dubes Desra Percaya sebagai Watapri. Ketika itu Indonesia ikut menjadi co-sponsor acara yang dilaksanakan oleh Nusantara Foundation bekerjasama dengan organisasi Diaspora atau World African Congress. Sayangnya sejak PTRI dipimpin oleh Dian Triansyah Djani hingga kini, PTRI tidak pernah lagi ikut mensponsori acara-acara seperti ini. Tentu saya menyayangkan hal ini. Apalagi Indonesia adalah negara Muslim terbesar dunia dan sering dibanggakan oleh para diplomatnya.
Di acara-acara seperti inilah seharusnya para wakil Indonesia di luar negeri harus memainkan peranan, khususnya di bidang budaya dan agama, untuk menampilkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang mampu memainkan perananan besar untuk membangun dunia yang harmoni dan damai berdasarkan keadilan Universal dan di atas asas saling menghormati (mutual respect) untuk kemanfaatan bersama (mutual benefit). Apalagi, sekali lagi, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga dunia dan negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Hal ini akan menjadi modal besar bagi Indonesia di dunia diplomasi internasional.
Hal yang tidak banyak mendapat perhatian dari para diplomat RI.
Peranan pemimpin agama dalam mempromosikan perdamaian dan melawan ekstrimisme dan kekerasan
Tema UN World Interfaith Harmony Week tahun adalah menggali kemampuan pemimpin agama dalam mempromosikan perdamaian dan melawan ekstrimisme dan kekerasan (leveraging the role of Religious leaders in promoting peace and combating extremism and violence). Sebuah tema yang sangat kontekstual mengingat berbagai peristiwa dunia yang sangat menyedihkan, khususnya di Timur Tengah.
Dalam presentasi singkat (tradisi UN yang serba terbatas) saya menyampaikan dua hal penting berkaitan dengan tema Konferensi atau pertemuan antar agama itu.
Pertama, saya kembali mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia (world peace) adalah tendensi menaiknya ektremisme dalam segala aspek kehidupan manusia. Di berbagai belahan dunia terpilih politisi-politisi yang ekstrim menjadikan polarisasi manusia semakin tajam. Salah satunya adalah fragmantasi ras di antara manusia yang sangat tajam. Rasisme semakin meninggi dan kebencian antar ras semakin tajam.
Ekstrimisme bahkan terjadi dalam aspek perekonomian. Kenyataan bahwa modal dunia dipegang oleh segelintir orang dan perekonomian dunia dikendalikan oleh segelintir orang menunjukkan tendensi elstremisme di aspek perekonomian kehidupan manusia nyata. Akibatnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin dan termarjinalkan. Hal yang kemudian menimbulkan gesekan dan perpecahan sosial di antara manusia.
Tentu ekstrimisme pada aspek agama bukan baru. Bahkan seringkali ketika berbicara tentang ekstremisme, banyak orang yang langsung menghubungkannya dengan ajaran agama. Hal yang benar namun seringkali tidak adil dan bijak terhadap agama. Saya katakan tidak adil dan tidak bijak …
